Pages

May 25, 2014

Percakapan Manusia, Malaikat, dan Iblis


Pukul 12 malam itu, Umar memutuskan untuk molor lalu ia merasa bangun sejenak dan bercakap-cakap dengan dua makhluk aneh yang belum pernah dilihatnya. Mungkin kejadian itu benar, namun bisa jadi juga ngawur.

Makhluk pertama, menurutnya, memiliki lingkaran di atas kepalanya dan sayap dan tatapannya teduh seperti pohon yang rindang; sedangkan makhluk kedua, telinganya runcing dan mempunyai tanduk dan tatapannya kelam seperti rumah prostitusi tampak depan.

“Mereka membangunkanku dan memintaku berdiri,” kata Umar.

Makhluk pertama berada di depan-kanan dan mahkluk kedua berada di depan-kiri Umar. Lantas percakapan itu pun terjadi. “Sekeliling mendadak sunyi seolah ada yang menekan tombol silent. Televisi di kamar menyala tetapi tak ada suara, serupa dengan mesin pendingin yang seharusnya menderu. Hanya suara kami yang terdengar,” kata Umar.

Saya rasa, setelah mendengar cerita Umar dengan deskripsi seadanya, makhluk pertama adalah malaikat. Karena mereka mengobrol, barangkali Umar sedang dianugerahi wahyu. Maka mungkin malaikat itu bernama Jibril. Dan demi memudahkan penulisan percakapan, makhluk pertama akan disebut Jibril.

Lalu makhluk kedua anggap saja iblis. Selama sekolah, saya tidak pernah diajarkan nama-nama iblis sewajarnya nama-nama malaikat. Jadi, saya tidak tahu siapa nama iblis yang gemar berbincang-bincang. Jadi, makhluk kedua biarlah tetap disebut Iblis.

“Apa yang kalian inginkan dariku?” Tanya Umar.

“Jauhi mereka,” jawab Jibril.

“Dekati mereka,” jawab Iblis.

Umar hanya bengong dan menunjukkan air muka yang tidak paham apa-apa.

“Bukankah manusia diberi akal oleh Tahun?” Tanya Iblis. Kepalanya menoleh ke arah Jibril.

“Jangan kurang ajar,” jawab Jibril. “Ya, manusia diberi akal oleh Tuhan.”

“Berarti kamu seharunya mengerti,” kata Iblis kepada Umar. “Dekati mereka.”

“Jangan,” kata Jibril. “Jauhi saja.”

“Mereka?” Tanya Umar.

“Ya,” jawab Jibril. “Mereka.”

“Mereka,” tambah Iblis.

Tangan kanan Umar menggaruk-garuk kepalanya. Ia memandangi dengan seksama kedua makhluk di hadapannya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dengan situasi ini. Ia memutuskan untuk kembali bertanya, “Mengapa harus dijauhi dan mengapa harus didekati?”

“Karena mereka goblok,” kata Jibril.

“Tidak!” Bantah Iblis.

“Goblok?” Tanya Umar.

“Ya,” jawab Jibril. “Untuk kebahagiaan saja mereka selamanya butuh orang lain. Bukankah goblok?”

“Namanya juga makhluk sosial,” timpal Iblis. “Maka jelas, kan, butuh orang lain?”

“Begitu pun dengan kebahagiaan? Sampai-sampai pergi ke bioskop terasa aneh ketika sendiri? Dan hanya karena geek berarti gila dan patut dikucilkan? Jelas kebahagiaan tidak selamanya butuh orang lain, mereka saja goblok,” kata Jibril.

“Jangan dengarkan dia!” Kata Iblis dengan nada membentak.

Saat Umar ingin melanjutkan pembicaraan karena masih tidak mengerti, tiba-tiba keadaan menjadi diam seolah menonton film lalu di-pause. Dan, semuanya seketika berubah gelap. Umar pun bangun dari tidurnya dan mendengar suara televisi dan deru mesin pendingin ruangan. “Apa itu tadi mimpi atau nyata?” Tanyanya kepada diri sendiri.

Esok harinya Umar mengajak bertemu saya di kedai kopi Mata Angin. Ia bercerita banyak tentang pengalamannya semalam. Tidak peduli kejadiannya benar atau ngawur, saya rasa itu cerita yang menarik. Maka saya meminta izin darinya. “Mar, bolehkah saya tulis pengalamanmu itu?”

May 18, 2014

Kalimat-Kalimat yang Memesona: Kafka on the Shore (2005)


Kalimat-kalimat berikut dicomot dari novel berjudul Kafka on the Shore (2005). Salah satu gaya menulis yang sangat-sangat saya suka dari Sang Penulis, kepolosan dan keluguan mengenani adegan seks, betul-betul menyentuh dan bikin mengiler:

Dia tidak mengatakan apa pun. Genggamannya agak mengendur, kemudian mengencang lagi. Pada saat yang sama, penisku agak melemas, lalu kembali menjadi keras.

“Kau mau sampai puncak?” Tanyanya.

“Mungkin,” kataku.

“Lagi-lagi mungkin?”

“Ingin sekali,” aku memperbaiki jawabanku.

Dia sedikit menghela nafas, lalu menggerakkan tangannya perlahan. Rasanya seperti melayang. Bukan hanya sekadar gerakan naik-turun, tapi lebih mirip pijatan menyeluruh. Dengan lembut tangannya mengusap penis dan buah zakarku. Aku menutup mataku dan mendesah keras.

“Kau tidak boleh menyentuhku. Dan kalau kau sudah hampir mencapai puncak, beritahu aku supaya tidak mengotori sprei.”

“Baiklah,” jawabku.

“Bagaimana? Aku cukup pandai, kan?”

“Luar biasa.”

“Seperti yang sudah kukatakan, tanganku sangat cekatan. Tapi ini bukan seks, mengerti? Aku hanya membantumu supaya tenang, begitulah. Kau telah mengalami hari berat, kau sangat tegang, dan kau tidak akan bisa tidur kecuali bila kita melakukan sesuatu guna meredakan keteganganmu. Mengerti?”

“Yah, aku mengerti,” kataku. “Tapi aku punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Boleh aku membayangkan kau telanjang?”

Tangannya berhenti dan dia menatap mataku. “kau ingin membayangkan aku telanjang sementara kita melakukan ini?”

“Yah. Aku sudah berusaha tidak membayangkannya, tapi tidak bisa.”

“Benarkah?”

“Seperti TV yang tidak dapat kau matikan.”

Dia tertawa. “Aku tidak mengerti. Kau tidak perlu mengatakannya padaku! Mengapa kau tidak melakukannya saja dan membayangkan apa yang kau mau? Kau tidak perlu persetujuanku. Bagaimana aku bisa tahu apa yang ada di kepalamu?”

“Aku tidak bisa mencegahnya. Membayangkan sesuatu adalah hal yang sangat penting, jadi aku rasa sebaiknya aku mengatakannya padamu. Tidak ada hubungannya dengan apa kau tahu yang aku pikirkan atau tidak.”

“Kau memang anak sopan,” katanya, terkesan. “Aku rasa itu bagus, kau ingin aku tahu. Baiklah, aku izinkan. Lakukanlah dan bayangkan aku telanjang.”

“Terima kasih,” kataku.

“Bagaimana? Apa tubuhku indah?”

“Menakjubkan,” jawabku.

*ditulis oleh Tuhan, Haruki Murakami, dalam bab 11

May 4, 2014

Kecintaan pada Karya Murakami


Saya baru mengikuti film seri berjudul Elementary. Sebetulnya saya sudah tahu lama, seorang wanita pernah menceritakannya. “Ada Sherlock versi Amerika, latar tempatnya New York dan Dr. John Watson jadi Dr. Joan Watson, dan ia wanita,” katanya. Saat itu saya berpikir bahwa buah karya Robert Doherty itu payah, hanya mendompleng kesuksesan Sherlock Holmes versi Benedict Cumberbacth.

Namun kemarin, ada akun Twitter yang berkicau tentang keapikan Sherlock Holmes versi Jonny Lee Miller. Kebetulan film seri lain yang sedang saya tonton, Marvel Agent of Shield, belum muncul episode barunya. Jadi, saya memutuskan untuk mengunduh Elementary episode pertama musim pertama.

Setelah ditonton ternyata lumayan menarik. Saya sampai yakin untuk mengikutinya dan, ketika menonton episode ketiga musim pertama, takjub akan dialognya di waktu 29:26. Segera saya klik pause dan pindah ke Microsoft Word untuk menulis ini.

Dialog itu terjadi saat Sherlock Holmes mewawancarai Adam Kemper, korban penculikan saat kanak-kanak dan baru ditemukan ketika remaja, di ruang interogasi kantor polisi setempat.

“Apakah kau akan mengkhianati ayahmu?” Tanya Adam.

“Aku akan menukar ayahku untuk Tic Tac,” jawab Sherlock. “Tapi itu ayahku, bukan ayahmu.”

Alasan saya takjub karena metafora pertukaran manusia, yang bisa menemani bercakap-cakap, dengan barang yang, bahkan, tak memiliki nyawa. Mungkin itu bukan sesuatu yang istimewa secara estetika bahasa. Tapi lebih kepada perasaan eksotis menurut personal. Karena saya pun akan melakukan hal yang serupa, perbedaannya bukan kepada ayah: saya akan menukar teman, tak terkecuali kau, untuk sebuah buku Haruki Murakami.

May 3, 2014

Kalimat-Kalimat yang Memesona: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014)


Kalimat-kalimat berikut dicomot dari novel berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014). Sungguh paragraf pembuka yang mengejutkan:

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir. Ia satu dari beberapa orang yang mengetahui kemaluan Ajo Kawir tak bisa berdiri. Ia pernah melihat kemaluan itu, seperti anak burung baru menetas, meringkuk kelaparan dan kedinginan. Kadang-kadang bisa memanjang, terutama di pagi hari ketika pemiliknya terbangun dari tidur, penuh dengan air kencing, tapi tetap tak bisa berdiri. Tak bisa mengeras.

*ditulis oleh Eka Kurniawan, dalam bab 1

May 2, 2014

Kalimat-Kalimat yang Memesona: Lenka (2011)


Kalimat-kalimat berikut dicomot dari novel berjudul Lenka (2011). Benar-benar paragraf pembuka yang mengagumkan:

Lima belas menit lagi kepala indah Lenka akan menghantam lantai dasar Jakarta Art Exhibition Center. Bagian belakang tengkoraknya akan pecah dan darahnya menggenang seperti saus vla merah. Serpihan daging merah jambu dan otak putih keabu-abuan akan bercampur dengan kepingan kecil mengkilap dari patung Kristal yang pecah terhantam oleh tubuh Lenka yang meluncur deras dari lantai lima.

Tapi, bersabarlah menunggu. Seperti matahari surut pada waktunya, kepala Lenka juga akan pecah pada waktunya. Dan kau akan tahu saat itu bahwa keindahan memang sering berumur pendek. Sekarang, di lantai dasar yang sudut-sudutnya berhias jambangan mawar dan lili sebagian tetamu undangan acara penggalangan dana Pustaka Bunyi Indonesia masih asyik bercakap, mengudap makanan Ternate dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi sajian utama, menyesap anggur Bali, atau memamerkan perhiasaan terbaru mereka dengan gaya pura-pura malas tetapi ingin betul diketahui dan dikagumi lawan bicaranya.

*ditulis oleh Andina Dwifatma, salah satu dari Sarekat Penulis Kuping Hitam, dalam bab berjudul Malam Pesta

Menulis Ulang Kalimat-Kalimat yang Memesona


Sepertinya saya akan sering melakukan ini: menulis ulang di blog kalimat-kalimat yang memesona dari buku-buku yang telah saya baca. Tak ada alasan khusus dalam melakukan hal ini.  Mungkin kalimat itu terletak di paragraf pembuka, paragraf entah ke berapa, atau paragraf terakhir. Pokoknya terdapat dua syarat: kalimat-kalimat itu mampu menghantam kepala seperti pukulan petinju yang hebat, dan memunculkan senyum manis di wajah saya. Begitu.